Halaman

Jumat, 01 Juni 2018

Day 16: lagi-lagi bicara medsos...

Baru-baru ini ada foto seorang anak teman yang dicomot tanpa izin oleh salah satu online shop, tidak tanggung-tanggung, walaupun balita tapi dengan pakaian yamg cukup terbuka. Belum kasus foto anak-anak artis yang juga sering dicomot sana sini bahkan oleh komunitas-komunitas seram seperti pedhofil, gay, dll. Medsos layaknya rumahnya, internet, pasti memiliki sisi plus minus. Bagi saya pribadi menjadi ajang silaturrahmi, bertemu teman lama yang sudah lama tak berkontak, tempat bergabung dengan komunitas-komunitas hebat seperti klub masak, klub nulis, klub foto, dll. Dan juga sebagai tempat menyimpan kenangan. Karena inilah dulu saya sering share foto dan video kegiatan kami. Dulu pun walau tak sering saya sering pamer kemampuan Zidan. Lebih sebagai dokumentasi yang bisa kami lihat suatu saat nanti. Makin kesini, mulai dari menyadari bahaya ain, makin menghindarkan diri dari sifat sombong, dan tentu saja agar foto kami tak dicomot tanpa izin entah alasan penipuan atau buat kaum penyimpangan seksual seperti diatas, naudzubillah, saya akhirnya berusaha sangat mengurangi upload foto di medsos, kalaupun ada, diambil dari jarak jauh atau kondisi agak blur. Begitupun dengan prestasi Zidan, apapun itu, saya berusaha menahan diri untuk tidak menguploadnya di media sosial, ngeri kalau ada komunitas pedofil yang jadi merasa gimana saat membacanya, sounds paranoid, isn'it?😂 Ya tapi begitulah komitmen keluarga kami, kalaupun diupload toh ada mode private yang hanya bisa dilihat oleh saya sendiri. Jadi, kalau kami saja begitu, tentu kami masih melarang besar anak memiliki medsos. Kami sudah pernah kecolongan sekali ini. Zidan punya IG dibuatkan oleh temannya. Selain alasan-alasan diatas, membayangkan anak memiliki medsos sendiri kok masih terdengar mengerikan bagi saya, anak yang tiap hari kita nasehati untuk menundukkan pandangan dan menjaga aurat bisa dengan hebas melihat aurat orang lain melalui medsos, belum lagi jika ia terjerumus pada salah satu grup penyimpangan seksual, naudzubillah mindzalik! Saya masih percaya, penyimpangan seksual itu bisa menular dari pergaulan. Apa Zidan akhirnya malah tidak semakin penasaran? Bisa jadi...lagi-lagi kembali ke orang tua, bagaimana membuat ia bisa mengalihkan ingatan dari sana sepanjang waktu. Sambil terus membentenginya, memberi penguatan pada mentalnya agar bisa kuat atas godaan-godaan ini. Kelak, akan ada waktunya pasti, ia memiliki medsos sendiri, saat ia sudah menyadari sepenuhnya untuk mengambil banyak manfaat dari sana dan menjauhi hal-hal bathil yang bisa ia temukan juga disana.

#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayangsesi11

Kamis, 31 Mei 2018

Day 15: Cara Nabi mendidik generasi

Jujur, saya mulai kehilangan ide😂. Browsing kesana kemari sepertinya semua hal sudah dibahas di hari-hari sebelumnya. Setelah berselancar di dunia maya, akhirnya saya mematung depan rak buku meneliti 1 demi 1 buku yang kira2 berhubungan dengan tema kali ini. Akhirnya saya memilih buku ini.ang susah beberapa poin yang sudah dibahas, tapi setidaknya kita review kembali.

Cara Nabi mendidik Generasi

1. Melatih anak minta izin saatasuk rumah dan kamar orang tua.

Pertama, untuk anak kecil, ditentukan 3 waktu: sebelum shalat subuh, waktu tidur siang, dan setelah sholat isya. Kedua, untuk usia baligh: di setiap waktu ketika pintu orang tua tertutup dan kedua orang tua sedang berada di kamar. Ketiga: untuk khadimat dan anak-anak yang sudah agak besar tapi belum baligh pun setiap waktu agar pandangan mereka tidak jatuh pada aurat keluarganya

Zidan sudah pernah diberitahu hal ini tapi ya tetap saja ada waktu-waktu dia khilaf. Memang butuh pembiasaan dan tentunya sebagai ortu juga kami tak boleh bosan mengingatkan hal ini

2. Membiasakan anak menundukkan pandangan dan menutup aurat.

Pentingnya menundukkan pandangan ini diakui oleh seorang ilmuwan dr Jerman bahwa kebiasaan menundukkan pandangan adalah solusi bagi kerusakan perilaku seksual.

Lagi-lagi Zidan masih dalam fase membiasakan diri dalam hal menundukkan pandangan. Masalah menutup aurat, alhamdulillah dia sudah menjaga dengan baik.

3. Memisahkan tempat tidur anak

semenjak usia 8 tahun Zidan sudah tidur dikamar sendiri, tetapi biasanya tetap ada masa-masa kami akhirnya kruntelan tidur bertiga, atau ketoka abinya lagi dinas keluar kota maka akhirnya kami tidur berdua. Berhubung sebentar lagi, doa sudah berusia 10 tahun, hal-hal permisif seperti ini tentu sudah tidak boleh lagi

4. Melatih anak tidur dalam posisi miring ke kanan

mengikuti sunnah Rasullullah SAW dengan tidur miring ke kanan akan menjauhkan anak dari banyak penyelewengan seksual ketika tidur. Rasullullah SAW menegaskan bahwa tidur terlentang adalah tidur setan. Dan tidur tengkurap akan menyebabkan sering terjadinya pergesekan pada organ reproduksi sehingga dpt membangunkan syahwat. Para dokter pun sangat menyarankan untuk tidak tidur tengkurap.

Lagi-lagi masih dalam tahap pembiasaan saat ini, masih jauh dari sempurna tapi at least he keep trying

5. Menjauhkan Anak dari Ikhtilat Bersama Lawan Jenis

Kami selalu mengingatkan ini, meski itu sepupu terdekat atau gurunya sekalipun. Zidan masih sering kelepasan hal ini apalagi sama tetangga-tetangga komplek yang memang sudah seperti saudara. Jadi ini masih jadi hal wajib yang setiap hari harus kami ingatkan

6. Menjelaskan perbedaan jenis kelamin dan bahaya zina ketika anak mendekati baligh.

Belum sampai sejauh ini sih, belum pernah menyinggung kata Zina, baru sebatas seperti poin no 5 diatas. Masih mencari timing yang tepat.

7. Menyuruh anak segera tidur setelah sholat Isya

Ini masih jauuuh🙈🙈. Dan susah banget keluarga kami mengaplikasikannya. Tapi kalau melihat haditsnya anjuran itu agar para pemuda tidak menghabiskan malamnya penuh kerusakan, jadi sepanjang dihabiskan dalam kebaikan dan ibadah sepertinya sah -sah saja ya😁

8. Menganjurkan pernikahan dini pada anak.

Penyakit kejiwaan dan sosial dalam masyarakat serta berbagai peristiwa kriminal yang terjadi tidak lain merupakan akibat tidak lazimnya dari memperlambat pernikahan.

Rabu, 30 Mei 2018

Day 14: Peran ibu dalam membangkutkan dan mengokohkan fitrah seksualitas anak

Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”
Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Sebagai Ibu, saya sudah menyadari betapa berat tanggung jawab yang saya emban dalam hal mendidik anak-anak ini. Dan membimbing fitrah seksualitas anak ini adalah salah satunya. Salah satu tanggung jawab baru yang baru saya ketahui ketika membaca buku Ustadz Harry Santosa.

Dijaman sekarang, tantangan dalam menanamkan dan mengokohkan fitrah seksualitas pada anak ini semakin banyak dan besar, secara pribadi saya coba mengurutkannya dan peran saya sebagai ibu di setiap tantangan itu

1. TV dan gadget

Tantangan paling besar menurut saya datang dari sini. Banyaknya siaran TV yang bahkan iklan pun tak sesuai dengan umur anak. Banyaknya siaran yang memunculkan lelaki kemayu. Bahkan kartun pun tak lepas dari adegan cinta-cintaan yang sebenarnya tak boleh. Solusinya, kalau di keluarga kami, ya pendampingan. Jangan pernah lepaskan anak menonton TV atau bermain gadget tanpa saya disisinya. Dulu saking inginnya  anak menjadi lelaki sejati, saya kadang memberinya tontonan power rangers, sungguh kekhilafan, karena walaupun saya dampingi. Toh dalam islam banyak sekali tokoh lelaki sejati yang benar-benar ada yang bisa diceritakan ke anak. Bukan fiktif seperti rangers itu. Sekarang, kadang masih ada tontonan yang belum sesuai umurnya yang kecolongan ditonton, tapi dengan ada saya disisinya, setidaknya saya bisa menjelaskan kalau itu jelas hal yang tidak boleh. Walau cuma sebatas bersentuhan tangan karena bermain, berbohong, atau usil.

2. Ketika anak mulai menyukai lawan jenis

Zidan dulu pernah bilang, "si A itu cantik ya mi, baik juga, pinter lagi". Imi menurut saya sudah lampu kuning, warning bahwa dia mulai menyukai lawan jenisnya. Ada salah satu sisi, merasa bersyukur karena berarti orientasi sekaualnya normal, tapi lebih banyak mulai deg-degan. Tentu sebagai ibu, saya gak boleh memperlihatkan kekagetan saya saat itu. Cuma mengiyakan, kemudian setelah itu mengingatkan persoalan muhrim non muhrim dan hal yang mengikutinya seperti sentuhan sedikit pun itu sudah terhitung dosa. Baru-baru ini, karena Zidan sudah mulai tahu ada kosakata pacaran dari teman-temannya. Akhirnya saya pun melibatkannnya ngobrol santai, kalau jelas dalam islam pacaran itu dosa dan tidak boleh. Membukakan Alqur'an bagian itu. Menyukai lawan jenis itu fitrah tapi biarlah sekarang saatnya membangun diri menjadi lebih baik. Belajar dan ibadah yang rajin agar kelak menjadi lelaki hebat dan sholeh sehingga bisa mendapatkan wanita yang hebat. Dan juga menjelaskan satu-satunya hubungan antara pria dan wanita yang boleh hanyalah pernikahan seperti ummi dan abi.

3. Makin banyaknya predator anak

Ini juga tentu ketakutan tersendiri. Predator anak ada dimana-mana. Kasus semakin meningkat. Bisa dibilang hampir tiap minggu saya mengingatkan Zidan hal ini. Sentuhan yang boleh dan tidak boleh, apa yang harus dilakukan jika ada yang sudah mulai menyentuh yang tidak boleh, tak peduli siapapun dia. Orang yamg dihormati anak sekalipun dia harus kabur dan teriak.

4. Fenomena LGBT

Nah, satu lagi. Angka penganutnya juga semakin meningkat. Dan penelitian membuktikan ini menular. Yang saya lakukan ya mendongengkannya kisah nabi luth, penyakit-penyakit yang menyertainya. Serta menjauhi temannya yang terbukti melenceng fitrah seksualitasnya.

Sejauh ini, 4 poin diatas dulu, semoga kita selalu bisa menjadi Ibu yang amanah pada titipan paling berharga ini. Aamiin YRA

#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayangsesi11

Selasa, 29 Mei 2018

Day 13: Mempersiapkan Calon Iman&Pemimpin masa depan

Sudah hari ke 13, dan belum sah rasanya sebagai emak "masih beranak satu" yang mempunyai anak lelaki usia pra aqil baligh  belum pernah membahas hal ini secara khusus. Pencarian saya kemudian membawa saya ke blog salah satu sahabat, yang juga mengutip salah satu tulisan ibu Elly Risman. Linknya di
https://ceritaleila.wordpress.com/2018/01/21/tantangan-level-11-kelas-bunda-sayang-iip-hari-ke-16/ tentang menyiapkan anak lelaki mimpi basah. 2 paragraf pembukanya cukup membuat saya tertohok.

Dear Parents….

Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan sasaran tembak bisnis pornografi internasional? Mengapa demikian? Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games, PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat dan akrab dengan dunia anak-anak.

Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media-media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20 kali lebih cepat.. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi!

Ya, sasaran utama pebisnis fotografi adalah anak LELAKI. Bagaimana saya sebagai ibu dari anak lelaki tidak merasa was-was akan hal ini, ditengah jaman serba gadget ini. Padahal tanpa menafikan gender, mendidik anak lelaki bagi saya rasanya punya tanggung jawab lebih besar dibanding anak wanita. Karena mereka adalah calon imam, calon pemimpin bagi keluarganya kelak, juga di masyarakat. Mereka harus mempunyai bekal yang cukup, baik itu tanggung jawab, ilmu agama dan pengetahuan buat melindungi dan memperlakukan keluarganya. Agar tidak terlahir ayah-ayah prematur yang merasa satu-satunya kewajibannya hanyalah mencari nafkah, dan akhirnya kembali melanjutkan generasi ayah prematur karena menjadi contoh yang tidak baik buat anak-anaknya. Banyak sekali realita yang bisa kita jumpai ayah-ayah yang belum matang  perkembangan seksualitasnya sebagai laki-laki sejati. Lalu solusinya, sudah setiap harindibahas di materi-materi kemarin, sosok Ayah dan Ibu harus hadir sepanjang masa mendidik anak-anak dari lahir sampai usianya aqil baligh agar fitrah seksualitas anak lelaki ini berjalan lurus di koridornya, menyadari dan melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang calon pemimpin dan imam kelak.

Kembali ke link teman saya diatas, saya akan kembali mengutip salah satu tulisan bu Elly ini, karena walaupun ayahnya sudah menjelaskan apa itu mimpi basah, tanggung jawab yang mengikutinya, juga hal-hal apa yang wajib dan sudah tidak boleh dilakukan tetapi tulisan ini sangat mendetail bagaimana memyiapkan anak mimpi basah. Yang, well, sepertinya setahun 2 tahun kedepan harus segera ayahnya praktekkan😁.

Tips menyiapkan anak laki-laki menghadapi mimpi basah

Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih dahulu alat-alatnya:

– Untuk mani: Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.

–  Untuk madzi: Beli lem khusus, seperti lem UHU.

Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk membicarakannya. Apa saja yang harus disampaikan:

–  Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya perubahan-perubahan pada fisik mereka.  Dan sebentar lagi mereka akan memasuki masa puber / baligh.

Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya… Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih. Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia memasuki masa puber / baligh”.

– Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu. Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.

–  Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh, gunakan the power of touch. Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad yang  sering mengusap bahu atau kepala anak laki-laki yang belum baligh. Hal ini dapat menumbuhkan keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka tidak akan mau kita sentuh.

– Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya : nak, buah hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.

– Sampaikan kepada anak kita:

Tentang mimpi basah & mani

· Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.

· Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah, tandanya ia sudah menjadi seorang remaja/dewasa muda. Dan mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.

· Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).

Dalam Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar / mandi junub, yaitu:

1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.

2. Cuci kedua tangan.

3. Berniat untuk bersuci (“Aku berniat mensucikan diri dari hadats besar karena Allah”). Minta ia untuk melafalkannya.

4. Berwudhu.

5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga seluruh anggota tubuh terkena air.

6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.

· Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan.

 

Tentang madzi

·  Jika ia melihat hal-hal/gambar-gambar yang tidak pantas dilihat oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).

· Cara membersihkannya cukup dengan: mencuci kemaluan, mencuci tangan lalu berwudhu.

· Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.

· Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan.

Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara menyampaikannya. Mengapa? Agar komunikasi yang akan kita lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita sampaikan dengan baik.

 

Selamat mencoba…

 

-Elly Risman-

Senin, 28 Mei 2018

Day 12: Tanggung jawab menurut Gender terkait fitrah seksualitas

Mulai hari ini sudah tidak ada lagi oresentasi kelompok. Peserta bebas mencari materi mandiri terkait fitrah seksualitas dan memberikan resume.

Sejak kemarin saya kepikiran pembagian tugas berdasarkan gender ini. Misalnya di masyarakat umumnya ibu itu salah satu tugasnya adalah memasak dan ayah misalnya mengecat rumah. Saat sedang browsing, saya sampai pada link ini, hehe tidak jauh-jauh dari IIP juga :)

https://www.google.com/search?hl=in-ID&ie=UTF-8&source=android-browser&q=peran+gender+fitrah+seksualitas+anak

Bukan bermaksud ikut menyetujui kampanye kesetaraan gender, karena jelas dalam alqur'an surat Annisa pun dengan tegas mengatakan laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Tetapi dalam Islam pun ditegaskan, pembagian tugas tersebut.  Lelaki memang diberi kelebihan sekaligus kewajiban buat mencari nafkah. Dan peran wanita adalah sholihah yang taat pada Allah, serta memelihara diri dan kehormatannya. Di keluarga kami, karena ayahnya di hari biasa sibuk bekerja, jadi pekerjaan rumah tangga sehari-hari dikerjakan oleh saya. Tapi di weekend, atau biasa juga di hari-hari biasa, suami membantu saya meracik bumbu masak, menyapu,mengepel, dsb. Saya pun pernah mengecat sendiri tembok rumah berdua suami. Ini sekaligus mengajarkan Zidan bahwa dalam hal pekerjaan seperti ini tidak ada pengkotak-kotakan gender. Kecuali memang seperti mengangkat galon saat keduanya ada di rumah, memperbaiki genteng bocor, tentu tugas ayah, karena lelaki memang diberi fisik yang lebih kuat. Sempat sih zidan bertanya tapi kenapa banyak koki banci mi, oh ini karena ada teman saya koki dan emang gemulai😂😓. Akhirnya saya tunjukin foto chef juna, dll yang menunjukkan maskulinitas para chef ini😂. Begitu juga ada wanita yang menjadi arsitek atau polwan. Kami hanya selalu menekankan pada kewajiban utama bahwa lelaki bertugas mencari nafkah, sebagai qowwam (pemimpin) bagi keluarganya, bertanggung jawab membawa keluarganya ke syurga Allah swt. Justru, beliau memang berkewajiban turut serta dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga selayaknya Rasululullah membantu pekerjaan istri-istrinya sebagaimana diceritakan banyak shiroh. Sekarang, Zidan juga kadang ikut membantu saya didapur, memetik sayuran atau mengupas bawang. Mencuci piringnya sendiri pun itu tugasnya. Kadang kalau sudah duet sama suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga, maka saya akan mengatakan, inilah contoh lelaki sejati, yang membuat dia mesem-mesem😁😁

#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayangsesi11

Minggu, 27 Mei 2018

Day 11: Bagaimana cara menjawab pertanyaan anak tentang seksualitas

Pernah atau seringkah kita tiba-tiba ditembak oleh pertanyaan-pertanyaan unik dari seorang anak? Apalagi yang berhubungan dengan seks? tiba-tiba anak bertanya, ‘Mah, penis itu apa?’, ‘Bund, kok payudara bunda besar, punya kakak tidak?’.

Dari sekelompok orang tua yang diberikan pertanyaan berkaitan dengan seks oleh anak, sebagian akan menunjukkan reaksi diam dan pura-pura tidak mendengar. Sebagian lagi ada yang mengalihkan pembicaran, atau justru memberikan komentar sinis pada anak seperti “Duh, nanti saja, ya, Nak. Kamu, kan, masih kecil.” Dan sebagian yang lain dengan susah payah berusaha untuk memberikan jawaban pada anak, meski sebenarnya tidak yakin apakah jawaban yang diberikan benar atau salah. Duh, dilematisnya jadi orang tua.

Ketika orang tua memberikan respon yang tidak tepat, anak akan merasa kebingungan padahal ia hanya bertanya. Dampak dari hal tersebut anak akan merasa takut dan tertutup pada orang tuanya lalu ia akan mencari jawaban sendiri. Inilah yang perlu diwaspadai.

Tidak perlu khawatir ketika anak mulai bertanya tentang seks. Yang perlu dikhawatirkan sebenarnya adalah ketika kita sebagai orang tua tidak bisa menanggapi dan menjawab pertanyaan anak dengan baik dan tepat.

Ada 3 hal yang menyebabkan orang tua salah bersikap ketika anak mengomunikasikan keingintahuannya:

1⃣Tidak memahami pentingnya menanggapi pertanyaan atau celoteh anak
2⃣Tidak mengetahui jawabannya
3⃣Tahu jawaban namun menganggap jawaban tersebut belum pantas diketahui anak

Ketika muncul pertanyaan dari anak tentang ini, sebenarnya ini adalah kesempatan orangtua untuk bisa menguatkan fitrah seksualitas sesuai track yang benar, berpedoman pada al quran dan hadist.
.
🌹Pendidikan yang kita berikan kepada anak bukanlah pendidikan seks, namun pendidikan seksualitas, yang merupakan totalitas suatu pribadi, bagaimana individu itu berbicara, berpakaian, berbudaya, bersosialisai, dsb.
.
Jadi jelaslah bahwa yang kita ajarkan ke anak adalah seksualitas yang mencakup masalah seks dan pendidikan moral serta kepatutan sehingga anak memiliki seksualitas yang benar, sehat dan lurus.

*Mengapa perlu belajar?* karena, kalau kita panik dan tak,tau ilmu bicara, :
😱 anak bingung
😱 anak mencari ke sumber lain yang belum tentu benar
😱 anak tumbuh dengan pemahaman yang salah
😱 fitrah seksualitas anak rentan menyimpang
.
🌹 *Prinsip Bicara Seksualitas*
✍ Berjenjang sesuai usia anak
✍ Dilandasi aturan agama
✍ sesuai anjuran medis
✍ Tanamkan value,baru penjelasan
✍ Didampingi penuh oleh orangtua
✍ Berani untuk "tidak sempurna"
✍ Tidak tabu, karena ini menopang fitrah personal
.
🌹 *Saat Menjawab Pertanyaan Anak*
.
✍ Tenang dan kontrol diri, tarik nafas panjang,rileks, take it easy (jangan terlihat shock)
✍ Cek pemahaman anak,"yang kamu tau apa nak?"
✍ Katakan apa yang anda rasakan,misal "bunda kaget kamu tanya itu"
✍ Kunci dengan agama, jangan beri jawaban gantung, jika belum siap katakan dan jadwalkan "bunda belum bisa jawab sekarang, insyaallah besok bunda jawab"

🌹 *Prinsip agama yang dikaitkan ketika bicara seksualitas*
✍ fitrah gender
✍ adab
✍ fiqh thaharah
✍ fiqh ibadah
✍ rasa malu dan ihsan
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓

Sebagai orang tua, kami pun pasti pernah mendapat pertanyaan-pertanyaan seputar seksualitas seperti itu. Dari mana Zodan keluar, kenapa tidak boleh ummi tidur dekat kakek padahal bapaknya, kenapa buah dadanya Zidan beda sama abi dan ummi dll.  Kaget dan pura-pura tidak dengar, pernah. Menjawab salah juga pernah. Seperti saat ditanya darimana zidan keluar dan saya menjawab dari perut. Tapi berdasarkan pemaparan diatas, memang memberikan penjelasan mengenai pertanyaan anak seputar seksualitas ini memang harus berjenjang sesuai dengan umurnya. Saya agak jlebb membaca bagian, kalah bukan kita yang jelaskan, ditakutkan mereka akan memuaskan rasa penasaran mereka justru dari aumber yang tidak benar. Justru saat-saat anak bertanya seperti itulah merupakan kesempatan buat menanamkan fitrah seksualitas sesuai gendernya kepada mereka. Sekarang PR kami ya mencari dan memahami jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kritis generasi sekarang tentang seksualitas ini.

#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayangsesi11

Jumat, 25 Mei 2018

Day 9: Remaja,pubertas, masalah dan solusinya

Hari ini giliran kelompok saya dan mb Sita yang persentasi. Perbedaan waktu 7 jam diantara kami tidak membuatnya jadi masalah. Kami akhirnya mengangkat masa Remaja yang dihubungkan dengan Pubertas yang pasti mengiringinya. Kenapa akhirnya kami mengkhususkan masalah Remaja ini, karena masa inilah masa penentu, masa paling kritis dalam tahapan hidup seorang anak sebagai individu. Masa peralihan dari kanak-kanak ke Remaja, dan merupakan satu proses yang harus dilalui dalam mengenalkan fitrah seksualitas seorang anak.

Pada fase ini banyaaak sekali masalah yang bisa menerpa anak kita. Masa-masa mereka sudah butuh pengakuan. Maka kita harus jadi sahabat bagi anak, Cs, best friend, apapun itu istilahnya. Sesungguhnya saya sudah mulai merasa hawa-hawa masa ini. Meskipun Zidan masih berusia 10 tahun, tapi ia mulai menunjukkan sedikit keegoisan, butuh pengakuan akan kemampuannya, juga seperti sudah membangun sedikit ruang pribadi dan batasan untuk dirinya sendiri yang kami sudah tak boleh campuri. Pada fase ini betul-betul butuh perhatian penuh dari orang tua dan pemilihan lingkungan yang baik karena kebanyakan masalah selain kurangnya perhatian orang tua juga pengaruh lingkungan sekitar. Lagi-lagi masalah yang kami hadapi disini. Bagaimana membentengi dia dari pengaruh-pengaruh luar yang buruk agar bisa menjadi anak yang berprinsip dan teguh pendirian. Semoga kelak Anak kita dijauhkan dari segala permasalahan Remaja, tidak mengalami fase remaja BLAST, yang merupakan gerbang awal dari kenakalan raja yang lebih parah.  Semoga kelak kami bisa menanamkan ia Remaja BEST (memiliki Behaviour yang baik, berEmpathy tinggi, Smart, dan Tough atau berpendirian kuat). Sungguh banyak sekali akhirnya pengetahuan baru yang saya dapatkan dari menyusun materi presentasi ini. Bagaimana Alqur'an dan Hadits juga sebagai satu buku parenting terbaik, bagaimana Anak yang telah memasuki masa baligh/pubertas telah dikenakan kewajiban syariat dan sudah bertanggung jawab atas dirinya sendiri atas perbuatannya. Semoga kelak, kami bisa menjadi orang tua yang MESRA ( Menjadi sahabat remaja) di masa anak-anak kami remaja, mendampinginya melewati fase penentu dan paling rawan ini, sehingga Mereka menjadi pribadi dengan mental yang kuat, berpegang teguh pada Agama, dan terhindarkan dari segala kemaksiatan, aamiin

#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayangsesi11